Proses Pelindian Sianida dalam Penambangan Emas: Proses Lengkap dari Pelarutan hingga Pemulihan

Proses Pelindian Sianida dalam Penambangan Emas: Lengkap dari Pelarutan hingga Pemulihan Shannail Penambangan natrium sianida pelindian Pra-perlakuan Penghancuran Penggilingan Tangki pengaduk Tumpukan Pengelolaan penyerapan karbon aktif Pembuangan tailing No. 1gambar

Pengantar

Ekstraksi emas dari bijihnya telah menjadi subjek yang sangat menarik selama berabad-abad. Di antara berbagai metode yang tersedia, Pencucian sianida telah muncul sebagai salah satu teknik yang paling banyak digunakan dalam industri komersial Penambangan emas industri. Proses ini memungkinkan pelarutan emas yang efisien dari bahan induknya, sehingga memungkinkan pemulihan logam mulia dalam bentuk yang lebih pekat. Artikel ini akan membahas proses lengkap pelindian sianida dalam penambangan emas, dari pelarutan awal emas dalam larutan sianida hingga pemulihan akhir logam.

Proses Pelindian Sianida dalam Penambangan Emas: Lengkap dari Pelarutan hingga Pemulihan Shannail Penambangan natrium sianida pelindian Pra-perlakuan Penghancuran Penggilingan Tangki pengaduk Tumpukan Pengelolaan penyerapan karbon aktif Pembuangan tailing No. 2gambar

Pelarutan Emas dalam Larutan Sianida

Reaksi Kimia yang Terlibat

Pelarutan emas dalam larutan sianida didasarkan pada serangkaian reaksi kimia yang kompleks. Reaksi keseluruhan dapat direpresentasikan oleh persamaan berikut:

4Au + 8NaCN + O₂ + 2H₂O → 4Na[Au(CN)₂] + 4NaOH

Dalam reaksi ini, emas (Au) bereaksi dengan Sodium sianida (NaCN) dengan adanya oksigen (O₂) dan air (H₂O) untuk membentuk natrium disianoaurat (Na[Au(CN)₂]) dan natrium hidroksida (NaOH). Peran oksigen dalam reaksi ini sangat penting karena bertindak sebagai agen pengoksidasi, yang memfasilitasi pelarutan emas.

Kondisi untuk Pelarutan Optimal

Agar pelarutan emas berjalan efisien, beberapa kondisi perlu dikontrol dengan cermat. Konsentrasi sianida dalam larutan merupakan faktor yang krusial. Biasanya, konsentrasi 0.05 - 0.1% NaCN digunakan dalam proses pelindian. Konsentrasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan konsumsi sianida tanpa peningkatan proporsional dalam pelarutan emas, sementara konsentrasi yang lebih rendah dapat mengakibatkan pelindian yang lambat dan tidak tuntas.

pH larutan juga berperan penting. Proses pelindian paling efektif dalam media yang sedikit basa, dengan kisaran pH 9.5 - 11. Pada pH ini, ion sianida hadir dalam bentuk yang tidak terdisosiasi (HCN), yang lebih reaktif terhadap emas. Penyesuaian pH biasanya dilakukan dengan menambahkan kapur (CaO) ke dalam larutan pelindian.

Suhu merupakan parameter penting lainnya. Meskipun reaksi dapat terjadi pada suhu sekitar, suhu yang sedikit lebih tinggi sekitar 25 - 35°C dapat meningkatkan laju pelarutan emas. Namun, peningkatan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan penguraian sianida, sehingga mengurangi efektivitasnya.

Pra-Pengolahan Bijih

Menghancurkan dan Grinding

Sebelum proses pelindian sianida dapat dimulai, bijih yang mengandung emas perlu diolah terlebih dahulu. Langkah pertama dalam pengolahan awal ini biasanya Penghancuran dan PenggilinganBijih-bijih tersebut dihancurkan untuk memperkecil ukurannya dan kemudian digiling menjadi partikel-partikel halus. Hal ini meningkatkan luas permukaan bijih, sehingga memungkinkan kontak yang lebih efisien antara partikel emas dan larutan sianida selama proses pelindian.

Tingkat penggilingan dikontrol dengan saksama. Penggilingan yang berlebihan dapat menyebabkan terbentuknya lendir halus, yang dapat menimbulkan masalah selama tahap pemisahan padat-cair berikutnya. Di sisi lain, penggilingan yang kurang dapat mengakibatkan paparan partikel emas yang tidak memadai, yang menyebabkan pelindian tidak tuntas.

Pemanggangan dan Bio-oksidasi

Dalam beberapa kasus, bijih emas mungkin mengandung mineral tahan api yang mencegah pembubaran emas secara langsung oleh sianida. Untuk bijih tersebut, metode pra-pengolahan tambahan seperti pemanggangan atau bio-oksidasi mungkin diperlukan.

Pemanggangan melibatkan pemanasan bijih dengan adanya udara untuk mengoksidasi mineral tahan api, seperti sulfida. Proses oksidasi ini memecah mineral, melepaskan partikel emas dan membuatnya lebih mudah diakses oleh larutan sianida.

Di sisi lain, biooksidasi menggunakan mikroorganisme untuk mengoksidasi mineral tahan api. Ini merupakan alternatif yang lebih ramah lingkungan daripada pemanggangan karena beroperasi pada suhu yang lebih rendah dan menghasilkan lebih sedikit emisi berbahaya. Mikroorganisme, biasanya bakteri atau jamur, dipilih berdasarkan kemampuannya untuk mengoksidasi mineral tahan api tertentu yang ada dalam bijih.

Proses Pelindihan

Pencucian Tangki Pengaduk

Pelindian tangki berpengaduk merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk pelindian sianida. Dalam proses ini, bijih yang telah diolah terlebih dahulu dicampur dengan larutan sianida dalam tangki berpengaduk besar. Tangki dilengkapi dengan pengaduk yang memastikan pencampuran bijih dan larutan secara menyeluruh, sehingga mendorong kontak antara partikel emas dan ion sianida.

Waktu pelindian dapat bervariasi tergantung pada sifat bijih dan kondisi operasi. Secara umum, proses pelindian dapat berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Selama waktu ini, sampel pelindian diambil dan dianalisis secara berkala untuk memantau kemajuan pelarutan emas.

Pencucian Tumpukan

Pelindian tumpukan merupakan metode lain yang banyak digunakan, terutama untuk bijih emas kadar rendah. Dalam proses ini, bijih yang dihancurkan ditumpuk dalam tumpukan besar pada lapisan kedap air. Larutan sianida kemudian disemprotkan ke atas tumpukan dan dibiarkan meresap melalui bijih. Saat larutan melewati tumpukan, ia melarutkan partikel emas, dan larutan yang terbentuk terkumpul di dasar tumpukan.

Pencucian tumpukan adalah metode yang lebih hemat biaya dibandingkan dengan Pencucian tangki pengaduk karena memerlukan investasi modal yang lebih sedikit untuk peralatan. Namun, prosesnya lebih lambat dan lebih cocok untuk bijih dengan kandungan emas yang relatif rendah.

Pemisahan Padat-Cair

Penyaringan

Setelah proses pelindian selesai, langkah selanjutnya adalah memisahkan residu padat (tailing) dari larutan padat, yang mengandung emas terlarut. Filtrasi merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk pemisahan padat-cair. Dalam proses ini, bubur (campuran padat dan cair) dialirkan melalui media penyaring, seperti kain saring atau penyaring tekan. Partikel padat tertahan pada media penyaring, sementara cairan (larutan padat) melewatinya dan terkumpul.

Pemilihan media penyaring bergantung pada sifat partikel padat dan kondisi pengoperasian. Misalnya, dalam kasus partikel padat yang sangat halus, kain penyaring dengan jaring yang lebih halus mungkin diperlukan.

dekantasi

Dekantasi merupakan metode lain yang dapat digunakan untuk pemisahan padat-cair, terutama jika partikel padat relatif besar dan mudah mengendap. Dalam proses ini, bubur dibiarkan mengendap dalam tangki pengendapan selama beberapa waktu. Partikel padat mengendap di dasar tangki karena gaya gravitasi, dan cairan bening (larutan yang mengandung) kemudian dituang dengan hati-hati.

Dekantasi merupakan metode yang lebih sederhana dan lebih hemat energi dibandingkan dengan penyaringan. Akan tetapi, metode ini mungkin tidak begitu efektif dalam memisahkan partikel padat yang sangat halus.

Pemulihan Emas dari Larutan Hamil

Adsorpsi Karbon Aktif

Salah satu metode yang paling umum untuk memulihkan emas dari larutan hamil adalah Adsorpsi karbon aktifDalam proses ini, karbon aktif ditambahkan ke larutan yang mengandung zat tersebut. Kompleks emas-sianida memiliki afinitas yang kuat terhadap permukaan karbon aktif, dan sebagai hasilnya, emas diserap ke dalam partikel karbon.

Partikel karbon kemudian dipisahkan dari larutan, biasanya dengan penyaringan atau filtrasi. Karbon yang mengandung emas kemudian diproses lebih lanjut untuk menghilangkan emas. Hal ini biasanya dilakukan dengan memasukkan karbon ke dalam perlakuan uap bersuhu tinggi atau dengan menggunakan agen penghilang kimia.

Presipitasi Seng

Presipitasi seng, yang juga dikenal sebagai proses Merrill-Crowe, merupakan metode lain untuk pemulihan emas. Dalam proses ini, debu seng ditambahkan ke larutan yang mengandung seng. Seng lebih elektropositif daripada emas, dan sebagai hasilnya, seng menggantikan emas dari kompleks emas-sianida. Reaksi tersebut dapat direpresentasikan oleh persamaan berikut:

2Na[Au(CN)₂] + Zn → 2Au + Na₂[Zn(CN)₄]

Emas yang diendapkan, bersama dengan seng yang tidak bereaksi, membentuk lumpur padat. Lumpur ini kemudian dipisahkan dari larutan, dan emas dimurnikan lebih lanjut untuk memperoleh produk murni.

Pemurnian Emas

Peleburan

Setelah emas diambil dari larutan yang mengandung emas, emas biasanya perlu dimurnikan untuk menghilangkan kotoran yang tersisa. Peleburan adalah salah satu metode yang paling umum untuk pemurnian emas. Dalam proses ini, material yang mengandung emas dipanaskan hingga suhu tinggi dengan adanya fluks, seperti boraks. Fluks membantu menurunkan titik leleh emas dan juga bereaksi dengan kotoran, membentuk terak yang dapat dipisahkan dari emas cair.

Emas cair kemudian dituangkan ke dalam cetakan untuk membentuk ingot. Ingot ini dapat diproses lebih lanjut atau dijual sebagai produk setengah jadi.

Pemurnian Elektrolit

Pemurnian elektrolit merupakan metode yang lebih maju untuk pemurnian emas. Dalam proses ini, anoda yang mengandung emas ditempatkan dalam sel elektrolit bersama dengan katoda emas murni. Elektrolit biasanya berupa larutan emas klorida atau garam emas lainnya. Ketika arus listrik dialirkan melalui sel, emas dari anoda larut ke dalam elektrolit dan kemudian mengendap di katoda.

Kotoran yang lebih elektropositif daripada emas larut ke dalam elektrolit tetapi tidak mengendap di katode, sementara kotoran yang kurang elektropositif daripada emas tetap berada sebagai lumpur di dasar sel. Hal ini menghasilkan produk emas dengan kemurnian yang sangat tinggi.

Pertimbangan Lingkungan

Manajemen Sianida

Sianida adalah zat yang sangat beracun, dan pengelolaan sianida yang tepat dalam proses penambangan emas sangatlah penting. Penggunaan sianida dalam penambangan emas diatur secara ketat di banyak negara untuk meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Salah satu aspek utama pengelolaan sianida adalah pencegahan tumpahan sianida. Operasi penambangan diharuskan memiliki sistem penampungan yang tepat untuk mencegah kebocoran larutan yang mengandung sianida ke lingkungan. Selain itu, pengolahan air limbah yang mengandung sianida juga penting. Ada beberapa metode yang tersedia untuk mengolah air limbah yang mengandung sianida, seperti oksidasi kimia, pengolahan biologis, dan pertukaran ion.

Pembuangan Tailing

Residu padat (tailing) yang dihasilkan setelah proses pemulihan emas juga perlu dibuang dengan benar. Tailing dapat mengandung sejumlah kecil sianida dan logam berat lainnya, yang dapat menimbulkan ancaman terhadap lingkungan jika tidak dikelola dengan benar.

Salah satu metode umum pembuangan tailing adalah menyimpannya di bendungan tailing. Bendungan ini dirancang untuk menampung tailing dan mencegah pelepasan kontaminan ke lingkungan. Dalam beberapa kasus, tailing juga dapat diproses ulang untuk mendapatkan kembali mineral berharga yang tersisa atau untuk mengurangi dampak lingkungan.

Kesimpulan

Proses pelindian sianida dalam penambangan emas merupakan proses yang kompleks dan bertahap yang meliputi pelarutan emas dalam larutan sianida, pra-perlakuan bijih, pelindian, pemisahan padat-cair, pemulihan emas, pemurnian, dan pengelolaan lingkungan. Setiap langkah dalam proses ini dikontrol secara cermat untuk memastikan ekstraksi dan pemulihan emas yang efisien sambil meminimalkan dampak lingkungan. Meskipun ada tantangan yang terkait dengan penggunaan sianida, proses ini tetap menjadi metode yang penting dan banyak digunakan dalam industri pertambangan emas komersial karena efisiensinya yang tinggi dan biaya yang relatif rendah. Namun, penelitian dan pengembangan berkelanjutan sedang dilakukan untuk mengembangkan metode alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Anda juga mungkin menyukai

Konsultasi pesan online

Tambahkan komentar:

+8617392705576Kode QR WhatsAppKode QR TelegramPindai kode QR
Tinggalkan pesan untuk konsultasi
Terima kasih atas pesan Anda, kami akan segera menghubungi Anda!
Kirim
Layanan Pelanggan Online